Minggu, 28 September 2014

Rodrigo Borgio



18 Oktober 2013, ketika usiaku menginjak kepala tiga, atau lebih tepatnya hampir kepala empat. Tengah malam. Alarm jam tanganku berderik 11 kali. Aku tersentak. Sebentar lagi hari miliknya tanggal 18 Oktober akan segera pamit dan jatuh ke tangan tanggal berikutnya. Aku masih di sini, terpaku di kursi empuk ini sambil berselancar di dunia maya, ‘tuk sekedar mencari tahu apa arti nama yang kusandang hingga saat ini.

Pencarian ini dilatari oleh keyakinan bahwa nama tidak sekedar deretan huruf yang membentuk kata. Orang tuaku yang seorang petani, buta huruf dan tidak pernah tamat sekolah dasar, tentu tidak sembarang memberiku nama. Tidak. Nama pasti memiliki arti. Namun yang kutemukan dalam pencarian ini adalah sebuah kekosongan. Ya, tak kutemukan referensi apa pun di dunia maya, perpustakaan maha luas menjangkau seluruh jagat, arti dari rentetan huruf K L I T U dan S yang lalu membentuk kata Klitus, namaku.

Mesin pencari google memberiku alternatif lain. “Mungkin maksud Anda Callistus”, itu suruhan google. Telunjuk tangan kananku refleks meng-klik kata itu. Sebuah kisah panjang seputar riwayat hidup seorang bernama Callitus terpampang di layar komputer. Ia adalah seorang Paus ke 209 dalam gereja katolik yang banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan. Nama aslinya adalah Alfonso Borgio, asal Jativa, Valencia. Tetapi semangat pembaharuan itu ternyata ternoda oleh sosok lain yang turut mengotori pribadi sang paus. Ia memiliki seorang keponakan bernama Rodrigo Borgio. Rodrigo menodai kesucian Callistus, pamannya.

Kisah panjang tentang Rodrigo Borgio pun turut terpampang di monitor komputer jinjingku. Aku semakin semangat mencerna kisah itu, walau hari telah berganti dan jatuh ke tangan tanggal. Pekatnya malam seolah tak turut memekat alur pikir otak. Kisah ‘miring’ seputar kehidupan paus, pemimpin tertinggi dalam keyakinanku, seolah menjadi baterai full charge yang membuat mata enggan terpejam. Dan itu kualami malam itu.

Kisah sejenis (tentang Rodrigo Borgio) pernah dikupas tuntas oleh Gunawan Mohammad dalam Catatan Pinggir Edisi 23 November 2009. Inilah kupasan Gunawan Mohammad tentang Rodrigo Borgio. Ketika Kardinal Rodrigo Borgio dipilih dengan suara bulat dalam pertemuan para uskup tanggal 10 Agustus 1492, Paus baru ini memilih nama ”Aleksander”—tokoh sejarah ”yang tak terkalahkan”, katanya, mengacu ke sebuah nama penakluk yang tak pernah mengenal Yesus. Upacara penobatannya meriah. Roma menyaksikan dengan penuh kegembiraan barisan panjang kuda putih, 700 pastor dan kardinal berpakaian warna warni, deretan ksatria dan pasukan panah, parade permadani dan lukisan. Di ujung prosesi itu Aleksander kemudian tampak: dalam usia 61 ia tetap gagah, tubuhnya tinggi, penuh energi, dengan sikap percaya diri yang mengesankan.

Di masa itu, tak banyak yang berkeberatan dengan kemewahan itu. Juga tak ada yang mengungkit kehidupan pribadi Sri Paus: ia naik jenjang karier sampai jadi kardinal dalam usia 25 tahun. Tentu saja jalur cepat itu karena Paus Callistus adalah pamannya. Yang tak bisa dilupakan adalah bahwa Kardinal Borgia pandai memimpin Kuria itu, unggul dalam administrasi dan politik, juga ganteng, hangat, bijak bestari, dan memikat hati para perempuan. Pada umur 29 tahun, sang kardinal punya ‘anak gelap’ pertama. Enam tahun kemudian, seorang perempuan lain jadi ibu dari empat anak yang baru, antara lain Cesare.

Itu memang zaman ketika kehidupan seksual para pe­tinggi Gereja berlangsung tanpa diributkan. Itu juga zaman ketika agama, zina, kekuasaan, uang, nepotisme, jual beli jabatan, perang, pembunuhan, dan moralitas campur baur. Itu zaman ketika kekuasaan agamawi berselingkuh intim dengan kekuasaan duniawi. Itulah zaman ketika kedudukan kepausan bisa dimanfaatkan ­untuk mengumpulkan dana dan memberi tempat bagi sanak keluarga. Paus Aleksander memperoleh 30 ribu du­kat uang untuk memberi izin perceraian seorang raja Hunga­ria, menerima bayaran 120 ribu dukat dari 12 kardinal yang dipromosikannya.

Dan sebuah sajak satire pernah ditulis tentang itu: ”Aleksander menjual kunci, altar, dan Kristus.…” Tetapi Sang Paus tak peduli. Tak bergeming. Ia tak mendengarkan apa yang dikatakan orang ramai tentang dirinya. Ia mengukuhkan takhta kepausan, dan untuk itu segala cara ditempuh. Ia beruntung. Ia mendapatkan bantuan dari putranya, Caesar Borgia, sang penakluk yang berhasil memperluas wilayah kepausan—terutama setelah anak muda itu, dalam usia 22 tahun, melepaskan jabatannya sebagai kardinal dan terjun memimpin peperangan.

Sama seperti Rodrigo Borgio, ayahnya, Cesare memiliki kejantanan utuh. Dia jantan di medan perang, jantan di gelanggang politik, jantan di panggung kekuasaan dan jantan di ranjang. Jantan yang sejantan-jantannya. Jantan yang tidak tanggung-tanggung. Dan kejantanan itu diketahui oleh publik. Tidak ada yang tersembunyi. Inilah kejantanan yang telanjang, tidak kabur air.
***
Kekuasaan ‘dinasti’ Borgia memang pernah tercatat sebagai drama hitam dalam lembar sejarah. Tetapi – sekali lagi – itu adalah jaman ketika segalanya tak dapat diributkan. Itu adalah jaman ketika publik menerima semuanya sebagai sebuah keniscayaan, yang sudah seharusnya demikian. Jaman ketika kepatuhan pada penguasa mengalahkan jeritan suara hati. Jaman ketika kehidupan moral seorang pemimpin dilabur dengan cat abu-abu kekuasaan, harta dan wanita.

Dapatkah semua itu terulang di masa sekarang? Bisa iya, bisa tidak. Iya, karena kita masih mendengar dalam samar kisah miris kehidupan segelintir pemimpin agama yang melenceng. Memang hanya satu dua orang. Iya, juga karena masih cukup banyak pemimpin ‘duniawi’ kita yang terjebak virus Rodrigo Borgio: jantan yang utuh, jantanyang tidak tanggung-tanggung. Jantan di segala bidang, baik materiil, spirituil, onderdil dan seksuil.

Tetapi bisa juga tidak, karena masyarakat sudah sangat cerdas. Kekokohan doktrin agama pun indoktrinasi paham politik sudah runtuh diterjang akal sehat, jauh ketika jaman aufklerung dimulai. Kecanggihan teknologi moderen sebagai buah dari kekuatan akal sehat mampu menembus lorong-lorong privat seorang pemimpin.

Ah, peduli amat. Tadi kan saya hanya ingin mengetahui arti dari nama saya? Koq bisa melenceng sampai ke sini? Sudah dulu ah, esok (tepatnya sebentar, karena sudah jam 03.00 dini hari) masih harus taat pada mesin absen. Kuakhiri pencarian arti nama ini sampai di sini. Kubiarkan akhir kisah ini menggantung. Silahkan Anda menganalisa sendiri. Saya yakin akal sehat Anda semua masih bekerja. Klitus Ngael.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar