Kamis, 23 Oktober 2014

Aku, Kamu, Kita

Fr. Sisco Barus,
Novis OCD San Jose
Bogenga-Bajawa




AKU adalah aku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa jika aku hanya mengandalkan diriku. Aku akan mati jika aku hanya mengandalkan kekuatanku sendiri. Aku tak dapat mengenal diriku jika setiap hari aku hanya berpijak pada kaki dan pendapatku sendiri. Hal- hal besar yang Aku lakukan tiada arti jika hal itu hanya untuk menyenangkan dan memperkaya diriKu sendiri. AKU merupakan hal yang sulit dalam hidup ini. AKU sulit untuk dikritik, AKU sulit untuk dinasihati, AKU sulit untuk menerima kelibahan orang lain, dan bahkan AKU gembira saat melihat orang lain susah. 

Sumber Foto: http://www.get-covers.com
Pada dasarnya, AKU merupakan kesombongan. Sikap sombong membuat AKU acuh-tak acuh akan keadaan sekitar. AKU hanya mementingkan kepentingannya sendiri. AKU memiliki pendirian yang tetap dan AKU biasanya cenderung tertutup pada hal-hal baru. AKU memiliki persepsi yang tidak dapat diubah dan AKU maunya menang sendiri.
Sikap AKU yang besar dalam diri mengakibatkan kejatuhan yang besar dalam diri. Sikap AKU melihat segalanya yang ia lakukan karena kekuatannya sendiri. Segala yang diperolehnya karena kerja dan usahanya sendiri. AKU mengabaikan peran Tuhan dalam hidupnya dan menentang segala ajaran yang baik  yang tidak masuk dalam otaknya. AKU selalu menganggap bahwa segalanya dapat ia atur menurut kehendaknya. Tuhan bersabda” rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku ( Yes 55:8)
Apa sebenarnya  yang membuat AKU bermegah atas keberhasilan yang dicapainya?. Bukankah Tuhan bebas merubah segala harapan yang AKU harapkan dengan kegagalan?. Hai kamu yang memiliki sikap AKU, bertobatlah, pandanglah bahwa disekitarmu banyak orang yang membutuhkan dirimu. Apakah engkau mengira engkau dapat hidup tanpa orang lain? Jauhkan dirimu dari sikap keAKUanmu sebelum itu membelenggumu seumur hidup. Ingatlah, jika engkau hidup dari keAKUanmu, engkau tak lebih seperti katak dalam tempurung.
Selain sikap AKU, dalam diri setiap manusia ada sikap mengKAMUkan. KAMU aja yang pergi, KAMU aja yang tampil, dan lain-lain. Dalam sikap mengKAMUkan ini, peran AKU sedikit tersembunyi. Ada dua kemungkinan mengapa AKU tidak menonjol dalam hal ini. Pertama: AKU merasa rendah diri, rendah diri karena KAMU memiliki lebih dari pada AKU. Biasanya AKU tidak ingin dikalahkan dalam segala hal, namun karena AKU melihat bahwa KAMU lebih berpotensi, maka secara perlahan mundur dan menyembunyikan dirinya dibelakang panggung. Kedua: rendah hati yang semu, misalnya: sebenarnya AKU tahu bahwa KAMU tidak memiliki bakat yang baik dalam berpidato tetapi pada suatu kesempatan AKU meminta untuk mempresentasikan hasil diskusi bersama. Dari contoh tersebut kelihatan bahwa AKU ingin menjatuhkan KAMU di hadapan orang lain.
MengKAMUkan adalah sikap ketidakmampuan yang ada dalam diri banyak orang. Banyak diantara kita tidak mau menggali bakat yang ada dalam diri. Hal ini bukanlah sikap rendah hati yang sejati. Menurut St. Teresa rendah hati yang sejati ialah berjalan dalam kebenaran. Kebenaran itu adalah Allah sendiri.
Sebenarnya tujuan hidup manusia itu bukanlah menjadi AKU, bukan juga menjadi KAMU, melainkan hidup itu merupakan suatu relasi antara AKU dan KAMU sebab hanya karena ada AKU dan KAMU lah yang akan menjadi KITA.
Mestinya yang mendasari setiap perbuatan setiap manusia adalah KITA. Jika KITA yang hidup dalam setiap diri manusia akan terjalin suatu hubungan dan relasi yang harmonis antara yang satu dengan yang lainnya. Keharmonisan dalam hidup akan terjadi jika bukan AKU atau KAMU yang diutamakan melainkan KITA.
Bagi mereka yang mengabdikan dirinya dalam pernikahan suci, hendaknya selalu mengutamakan bahwa segalanya adalah milik kita. Banyak kejadian yang menghancurkan bahtera rumah tangga yang harmonis karena menganggap bahwa hal yang dicapai bukanlah usaha bersama melainkan karena kerja keras satu belah pihak baik isteri maupun suami. Oleh sebab itu, patutlah kita bercermin pada beberapa figur-figur ini yang selalu menaruh hati pada kehidupan yang harmonis. Sebut saja Ustad jefri dan sopan sopyan.
Sumber Foto: http://www.ilovegenerator.com
Bagi komunitas-komunitas hidup religious juga sangat dihimbau untuk mempraktekkan hidup yang baik dengan berlandaskan pada pemahaman ini. Yaitu:”segalanya adalah milik kita”. Kita, bagi seorang religious merupakan kebersaman.sehingga, bagi seorang religious tidak boleh menjadikan segala sesuatu adalah miliknya pribadi.
Oleh karena itu, kita sebagai suatu persekutuan umat Allah, kita diajak untuk selalu menekankan hidup persaudaraan. Dimana dalam hidup persaudaraan itulah, AKU  dan KAMU akan memperoleh sebersit rasa kebahagiaan yang tidak pernah kita peroleh sebelumnya. 

By. Fr. Sisco Barus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar