| Fr. Sisco Barus, Novis OCD San Jose Bogenga-Bajawa |
AKU adalah aku. Aku tidak dapat
berbuat apa-apa jika aku hanya mengandalkan diriku. Aku akan mati jika aku
hanya mengandalkan kekuatanku sendiri. Aku tak dapat mengenal diriku jika
setiap hari aku hanya berpijak pada kaki dan pendapatku sendiri. Hal- hal besar
yang Aku lakukan tiada arti jika hal itu hanya untuk menyenangkan dan
memperkaya diriKu sendiri. AKU merupakan hal yang sulit dalam hidup ini. AKU
sulit untuk dikritik, AKU sulit untuk dinasihati, AKU sulit untuk menerima
kelibahan orang lain, dan bahkan AKU gembira saat melihat orang lain susah.
![]() |
| Sumber Foto: http://www.get-covers.com |
Pada dasarnya, AKU merupakan
kesombongan. Sikap sombong membuat AKU acuh-tak acuh akan keadaan sekitar. AKU
hanya mementingkan kepentingannya sendiri. AKU memiliki pendirian yang tetap
dan AKU biasanya cenderung tertutup pada hal-hal baru. AKU memiliki persepsi
yang tidak dapat diubah dan AKU maunya menang sendiri.
Sikap AKU yang besar dalam diri
mengakibatkan kejatuhan yang besar dalam diri. Sikap AKU melihat segalanya yang
ia lakukan karena kekuatannya sendiri. Segala yang diperolehnya karena kerja
dan usahanya sendiri. AKU mengabaikan peran Tuhan dalam hidupnya dan menentang
segala ajaran yang baik yang tidak masuk
dalam otaknya. AKU selalu menganggap bahwa segalanya dapat ia atur menurut
kehendaknya. Tuhan bersabda” rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu
bukanlah jalan-Ku ( Yes 55:8)
Apa sebenarnya yang membuat AKU bermegah atas keberhasilan
yang dicapainya?. Bukankah Tuhan bebas merubah segala harapan yang AKU harapkan
dengan kegagalan?. Hai kamu yang memiliki sikap AKU, bertobatlah, pandanglah bahwa
disekitarmu banyak orang yang membutuhkan dirimu. Apakah engkau mengira engkau
dapat hidup tanpa orang lain?
Jauhkan dirimu dari sikap keAKUanmu sebelum itu membelenggumu seumur hidup.
Ingatlah, jika engkau hidup dari
keAKUanmu, engkau tak lebih seperti katak dalam tempurung.
Selain sikap AKU, dalam diri
setiap manusia ada sikap mengKAMUkan.
KAMU aja yang pergi, KAMU aja yang tampil, dan lain-lain. Dalam
sikap mengKAMUkan ini, peran AKU
sedikit tersembunyi. Ada dua kemungkinan mengapa AKU tidak menonjol dalam hal
ini. Pertama: AKU merasa
rendah diri, rendah diri karena KAMU memiliki lebih dari pada AKU. Biasanya AKU
tidak ingin dikalahkan dalam segala hal, namun karena AKU melihat bahwa KAMU
lebih berpotensi, maka secara perlahan mundur dan menyembunyikan dirinya dibelakang panggung. Kedua: rendah hati yang semu, misalnya:
sebenarnya AKU tahu bahwa KAMU tidak memiliki bakat yang baik dalam berpidato
tetapi pada suatu kesempatan AKU meminta untuk mempresentasikan hasil diskusi
bersama. Dari contoh tersebut kelihatan bahwa AKU ingin menjatuhkan KAMU di
hadapan orang lain.
MengKAMUkan adalah sikap
ketidakmampuan yang ada dalam diri banyak orang. Banyak diantara kita tidak mau
menggali bakat yang ada dalam diri. Hal ini bukanlah sikap rendah hati yang
sejati. Menurut St.
Teresa rendah hati yang sejati ialah berjalan dalam kebenaran. Kebenaran itu
adalah Allah sendiri.
Sebenarnya tujuan hidup manusia
itu bukanlah menjadi AKU, bukan juga menjadi KAMU, melainkan hidup itu
merupakan suatu relasi antara AKU dan KAMU sebab hanya karena ada AKU dan KAMU
lah yang akan menjadi KITA.
Mestinya yang mendasari setiap perbuatan
setiap manusia adalah KITA. Jika KITA yang hidup dalam setiap diri manusia akan
terjalin suatu hubungan dan relasi yang harmonis antara yang satu dengan yang
lainnya. Keharmonisan dalam hidup akan terjadi jika bukan AKU atau KAMU yang
diutamakan melainkan KITA.
Bagi mereka yang mengabdikan
dirinya dalam pernikahan suci, hendaknya selalu mengutamakan bahwa segalanya
adalah milik kita. Banyak kejadian yang menghancurkan bahtera rumah tangga yang
harmonis karena menganggap bahwa hal yang dicapai bukanlah usaha bersama
melainkan karena kerja keras satu belah pihak baik isteri maupun suami. Oleh
sebab itu, patutlah kita bercermin pada beberapa figur-figur ini yang selalu
menaruh hati pada kehidupan yang harmonis. Sebut saja Ustad jefri dan sopan sopyan.
![]() |
| Sumber Foto: http://www.ilovegenerator.com |
Bagi komunitas-komunitas hidup religious
juga sangat dihimbau untuk mempraktekkan hidup yang baik dengan berlandaskan pada
pemahaman ini. Yaitu:”segalanya adalah milik kita”. Kita,
bagi seorang religious merupakan kebersaman.sehingga, bagi seorang religious
tidak boleh menjadikan segala sesuatu adalah miliknya pribadi.
Oleh karena itu, kita sebagai
suatu persekutuan umat Allah, kita diajak untuk selalu menekankan hidup
persaudaraan. Dimana dalam hidup persaudaraan itulah, AKU dan KAMU akan memperoleh sebersit rasa
kebahagiaan yang tidak pernah kita peroleh sebelumnya.
By. Fr. Sisco Barus




