Kamis, 23 Oktober 2014

Haruskah Cinta Memiliki?



Bro. Raymond




Cinta berarti ketulusan. Ia tidak mengharapkan, tetapi sebaliknya memberi tanpa menghitung apa yang diterima. Cinta tidak mengenal waktu dan tempat. Ia bertumbuh di mana ia mau bertumbuh. Ia tidak takut perpisahan, sebab bahkan dengan perpisahan, cinta menjadi kerinduaan dan harapan yang mengilhami pertemuan dimasa depan. Cinta menyanggupi setiap orang menerima penderitaan sebagai bagian yang wajar dari kehidupan seseorang, seperti sekuntum bunga mawar yang indah dan harum namun berduri. Cinta juga tidak mengenal ras atau golongan. Ya, cinta menerobos segala batas. Ia menerobos batas sosial, status dan profesi apa pun.

Aku bangun pagi itu dengan langkah letih dan lesu. Perlahan aku melangkah menuju jendela lalu duduk diatas kursi di dekat jendela itu. Pagi ini langit bewarna kelabu. Mentari pagi masih masih malu-malu memancarkan sinarnya. Berkilauan cahaya embun pagi saat diterpa sinar mentari. Suasana itu membuatku mengelana. Aku menyusur kisah usang, ketika rasa cinta menerobos relung hati. Aku pernah memiliki kisah cinta dengan seorang wanita yang begitu cantik, manis dan ramah. Kecantikannya membuat hatiku luluh dan selalu ingin dekat dia. Sebut saja namanya Mira.
Percik rasa cintaku dengan Mira terjadi tanpa sengaja. Kala itu, aku dipercayakan untuk melatih sebuah drama bersama seorang teman, Vian namanya. Ketika latihan hendak dimulai, sebuah suara lembut menyentak pikiranku.

“Tunggu Kak,  tolong perkenalkan dulu nama kakak, suara Ina yang duduk paling depan. Jantungku seperti disetrum.

Setuju...setuju...”, timpal beberapa wanita berwajah mirip dengan bintang film yang pernahku tonton.

Baiklah. Kita mulai dari belakang,” kataku. Vian, temanku, mengangguk setuju.
Aku mulai mengangguk dan memasang kuping telingaku agar nama yang disebut dapat diingat.

Ina. Ririn. Mira. Yuni. Emi. Airin. Tesa dan Risa. Mereka memperkenalkan diri satu persatu.

Sekarang giliranku dan Vian untuk memperkenalkan diri.

“Raymon. Asal dari Rimba (Riung Barat)”, kataku.

Tepukan tangan menggemuruh, seperti aku habis memenangkan sebuah pertandingan. Tanpa sengaja aku duduk tepat di samping Mira. Beberapa temannya langsung batuk-batuk.

Ehem, ehem, ehem....”. Saya tidak peduli.

Ketika sedang asik latihan, tanpa sengaja mataku melirik ke arah Mira dan pada saat bersamaan kami berdua saling bertatapan. Kugunakan kesempatan itu menjadi kesempatan emas. Kukedipkan mata dan  Mira pun membalasnya dengan senyuman yang manis. Lesung pipinya kitan menambah kecantikannya. Namun aku tak mampu mengungkap dalam kata apa yang bergemuruh di hatiku. Aku mengagumi Mira, tetap aku pendam rasa itu di hati terdalam.

Hari demi hari berganti, adegan demi adegan diperankan. Rasa cintaku kepada Mira semakin membara. Ingin kucoba memendam rasa, namun ternyata aku tak sanggup. Ah, kenapa aku tidak mengungkapkannya saja secara jujut apa adanya kepada Mira, gadisku ini? Itu pikiran yang terlintas di benakku. Dan tekadku bulat. Esok aku harus berani bertutur jujur padanya.


Keesokan harinya seusai latihan aku memanggil Mira. Setengah malu-malu dia menghampiriku.

“Ada apa kak?”.

Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Dalam benakku bertebaran memori yang pernah tertata rapi dalam otakku. Ya cinta bukan sekadar perasaan tetapi sebuah komitmen. Perasaan bisa datang dan pergi begitu saja. Cinta sejati mendengar apa saja yang tidak dikatakan dan memberi apa yang tidak dijelaskan, sebab cinta itu tidak datang dari bibir dan lidah atau pikiran melainkan dari hati.
Dengan berani aku mulai mengungkapkan kepadanya.

“Mira, aku suka padamu”, ujarku setengah berbisik. Kata-kata itu meluncur tanpa kendali dari bibirku. 

“Apa? Kak Reymon suka sama saya? Aku tidak percaya.  Jangan gombal kak! Aku tau hampir setiap lelaki selalu mengatakan cinta pada setiap wanita tapi semuanya itu hanyalah dusta”, cerocosnya tanpa henti.

“Mira, biar kau tahu”, aku coba sedikit lebih serius dan tegas mengatakannya. “Ketika pertama kali aku melihat dirimu aku merasa engkaulah bunga hatiku, yang selalu setia menghiasi langkah hidupku. Aku merasa engkaulah wanita yang kucari selama ini dalam hidupku. Mira, jujur dari hati yang paling dalam aku katakan padamu bahwa aku mencintaimu”, ujarku lagi.

Apa? Kak Reymon mencintaiku?”, tanyanya sekali lagi. Seolah ingin sebuah kepastian dariku. Mira pun tertunduk malu sambil tersenyum. Dengan suara yang pelan dan begitu lembut ia pun mengungkap getar rasa di hatinya. Aku menunggu dengan hati setengah gundah. Akankah detak rasa di hati kami sama?

“Kak Reymon, aku... aku... juga mencintaimu Kak. Sejak pertama aku melihat kakak

 “ Kamu serius Mir? 

Dia hanya mengangguk dengan senyum merekah di bibirnya. Aku bahagia sekarang, karena cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Hari-hariku yang hampa dan kosong telah terisi oleh sesosok wanita yang begitu mencintaiku.
             
Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Kami pun berpisah

***

Hari terus berlalu. Hubungan cinta antara aku dan Mira semakin erat seperti sepasang kupu-kupu yang menari-nari menikmati keindahan alam semesta ini. Rasanya tidak seluruh isi hatiku kuungkapkan kepadanya. Bukan karena aku bisu namun karena waktulah yang membuat aku tak bisa mengungkapkan itu padanya.



Aku sangat menikmati hari-hari kebahagiaanku bersama Mira. Aku tahu, walau dia lebih banyak diam, namun dia telah mengatakan banyak hal. Ada kata cinta di sana. Itulah yang membuatku selalu betah untuk duduk berlama-lama bila sudah berada di dekatnya. Kami menikmati madu cinta kami berdua. Semuanya indah. Ya, indah.

Namun waktu terus berputar, seperti roda yang terus berputar. Dan perputaran roda sang waktulah yang menghantar kami ke suatu titik: perpisahan.  Dia harus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di tempat lain.

 Jujur kuakui, aku tidak sudi menerima kenyataan itu. Aku tidak sanggup menghadapi realitas perpisahan itu. Aku juga tak kuasa menolak keputusannya. Mira datang untuk memberitahu hal itu padaku. Aku tak kuasa menemuinya. Tak sempat pula kuucap selamat jalan buatnya.

“Mira, maafkan aku. Maafkan”, hanya itu yang bisa terucap dari bibirku.

Dan tiba-tiba aku ingat akan sebuah konsep yang dia kirim di HP-ku. Konsep itu masih kusimpan dimemori HP-ku. Dengan tangan dan jariku yang kaku dan lesu aku membukanya dan membacanya.

Kak Reymon, maafkan Mira. Mira harus pergi mencari ilmu ke negeri seberang untuk bekal hidup di hari tua nanti. Selamat tinggal, Kak. Jangan pernah lupakan aku. (by Mira your love)”.

Berulang kali aku membacanya namun itu hanya membuatku tambah sedih. Aku akhirnya tahu bahwa cinta itu tak selamanya memiliki. Aku juga berhak untuk merasakan kehilangan. Dalam gundah yang membuncah,  aku ingat sebuah syair:

Waktu terasa semakin berlalu,
tinggalkan cerita tentang kita,
adakah masih lagi kita bersama,
‘tuk hapuskan semua pilu di dada.

Memang waktulah yang akan merubah semuanya. Tetapi aku kecewa sebab dalam putarannya, waktu tidak mengenal kata lelah. Satu harapanku yang tersisa, semoga engkau sukses dan dapat meraih mimpi dan cita-citamu. Ingatlah selalu bahwa aku senantiasa hadir untukmu disetiap hembus nafasmu.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar