Bro. Raymond
Cinta berarti ketulusan. Ia tidak mengharapkan,
tetapi sebaliknya memberi tanpa menghitung apa yang diterima. Cinta
tidak mengenal waktu dan tempat. Ia bertumbuh di mana ia
mau bertumbuh. Ia tidak takut perpisahan, sebab bahkan dengan
perpisahan, cinta menjadi kerinduaan dan harapan yang mengilhami pertemuan dimasa
depan. Cinta menyanggupi setiap orang menerima penderitaan sebagai bagian yang
wajar dari kehidupan seseorang, seperti sekuntum bunga mawar yang indah dan
harum namun berduri. Cinta juga tidak mengenal ras atau golongan. Ya, cinta
menerobos segala batas. Ia menerobos batas sosial, status dan profesi apa pun.
Aku bangun pagi itu dengan
langkah letih dan lesu. Perlahan aku melangkah menuju jendela lalu
duduk diatas kursi di dekat jendela itu. Pagi ini
langit bewarna kelabu. Mentari pagi masih masih
malu-malu memancarkan sinarnya. Berkilauan cahaya embun pagi saat diterpa
sinar mentari. Suasana itu membuatku mengelana. Aku menyusur kisah usang, ketika rasa
cinta menerobos relung hati. Aku pernah memiliki kisah cinta
dengan seorang wanita yang begitu cantik, manis dan ramah. Kecantikannya membuat hatiku
luluh dan selalu ingin dekat dia. Sebut saja
namanya Mira.
Percik rasa cintaku dengan Mira terjadi
tanpa sengaja. Kala itu, aku dipercayakan untuk melatih sebuah
drama bersama seorang teman, Vian namanya. Ketika
latihan
hendak dimulai, sebuah suara lembut menyentak pikiranku.
“Tunggu Kak, tolong perkenalkan dulu nama kakak”, suara
Ina yang duduk paling depan. Jantungku seperti disetrum.
“Setuju...setuju...”, timpal
beberapa wanita berwajah mirip dengan bintang film yang pernahku tonton.
“Baiklah. Kita mulai
dari belakang,” kataku. Vian, temanku, mengangguk setuju.
Aku mulai mengangguk dan memasang
kuping telingaku agar nama yang disebut dapat diingat.
Ina. Ririn. Mira. Yuni. Emi. Airin. Tesa
dan Risa. Mereka memperkenalkan diri satu persatu.
Sekarang giliranku dan Vian untuk
memperkenalkan diri.
“Raymon. Asal dari
Rimba (Riung Barat)”, kataku.
Tepukan tangan menggemuruh, seperti
aku habis memenangkan sebuah pertandingan. Tanpa sengaja aku duduk tepat di
samping Mira. Beberapa temannya langsung batuk-batuk.
“Ehem, ehem, ehem....”. Saya
tidak peduli.
Ketika sedang asik latihan, tanpa
sengaja mataku melirik ke arah Mira dan pada saat bersamaan
kami berdua saling bertatapan. Kugunakan kesempatan itu menjadi
kesempatan emas. Kukedipkan mata dan Mira pun membalasnya dengan senyuman yang
manis. Lesung pipinya kitan menambah kecantikannya. Namun aku
tak mampu mengungkap dalam kata apa yang bergemuruh di hatiku. Aku mengagumi
Mira, tetap aku pendam rasa itu di hati terdalam.
Hari demi hari berganti, adegan
demi adegan diperankan. Rasa cintaku kepada Mira semakin membara.
Ingin kucoba memendam rasa, namun ternyata aku tak sanggup. Ah, kenapa
aku tidak mengungkapkannya saja secara jujut apa adanya kepada Mira, gadisku
ini? Itu pikiran yang terlintas di benakku. Dan tekadku bulat. Esok aku harus
berani bertutur jujur padanya.
Keesokan harinya seusai
latihan aku memanggil Mira. Setengah malu-malu dia menghampiriku.
“Ada apa kak?”.
Jantungku berdetak lebih cepat
dari biasanya. Dalam benakku bertebaran memori yang pernah tertata rapi dalam
otakku. Ya cinta bukan sekadar perasaan tetapi sebuah komitmen. Perasaan bisa
datang dan pergi begitu saja. Cinta sejati mendengar apa saja yang tidak
dikatakan dan memberi apa yang tidak dijelaskan, sebab cinta itu tidak datang
dari bibir dan lidah atau pikiran melainkan dari hati.
Dengan berani aku mulai
mengungkapkan kepadanya.
“Mira, aku
suka padamu”, ujarku setengah berbisik. Kata-kata itu meluncur tanpa kendali dari bibirku.
“Apa? Kak Reymon suka sama saya?
Aku tidak percaya. Jangan gombal kak!
Aku tau hampir setiap lelaki selalu mengatakan cinta pada setiap wanita tapi
semuanya itu hanyalah dusta”, cerocosnya tanpa henti.
“Mira, biar kau tahu”, aku
coba sedikit lebih serius dan tegas mengatakannya. “Ketika
pertama kali aku melihat dirimu aku merasa engkaulah bunga hatiku, yang selalu
setia menghiasi langkah hidupku. Aku merasa engkaulah wanita yang kucari
selama ini dalam hidupku. Mira, jujur dari hati yang paling dalam aku
katakan padamu bahwa aku mencintaimu”, ujarku lagi.
“Apa? Kak Reymon
mencintaiku?”, tanyanya sekali lagi. Seolah ingin sebuah kepastian dariku. Mira pun
tertunduk malu sambil tersenyum. Dengan suara yang pelan dan begitu lembut ia pun mengungkap
getar rasa di hatinya. Aku menunggu dengan hati setengah gundah. Akankah detak
rasa di hati kami sama?
“Kak Reymon, aku...
aku... juga mencintaimu Kak. Sejak pertama aku melihat kakak”.
“ Kamu serius Mir?”
Dia hanya mengangguk dengan senyum
merekah di bibirnya. Aku bahagia sekarang, karena cintaku tidak bertepuk
sebelah tangan. Hari-hariku yang hampa dan kosong telah terisi oleh
sesosok wanita yang begitu mencintaiku.
Waktu
sudah menunjukan pukul 6 sore. Kami pun berpisah.
***
Hari terus berlalu. Hubungan
cinta antara aku dan Mira semakin erat seperti sepasang kupu-kupu yang
menari-nari menikmati keindahan alam semesta ini. Rasanya tidak seluruh isi
hatiku kuungkapkan kepadanya. Bukan karena aku bisu namun karena
waktulah yang membuat aku tak bisa mengungkapkan itu padanya.
Aku sangat
menikmati hari-hari kebahagiaanku bersama Mira. Aku tahu, walau dia lebih banyak diam, namun dia telah mengatakan
banyak hal. Ada kata cinta di sana. Itulah yang
membuatku selalu betah untuk duduk berlama-lama bila sudah
berada di dekatnya. Kami menikmati madu cinta kami berdua.
Semuanya indah. Ya, indah.
Namun waktu terus berputar,
seperti roda yang terus berputar. Dan perputaran roda sang waktulah yang
menghantar kami ke suatu titik: perpisahan. Dia harus
melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di tempat lain.
Jujur kuakui, aku tidak sudi
menerima kenyataan itu. Aku tidak sanggup menghadapi realitas
perpisahan itu. Aku juga tak kuasa menolak keputusannya. Mira
datang untuk memberitahu hal itu padaku. Aku tak kuasa menemuinya. Tak sempat
pula kuucap selamat jalan buatnya.
“Mira, maafkan
aku. Maafkan”, hanya itu yang bisa terucap dari bibirku.
Dan tiba-tiba aku ingat akan
sebuah konsep yang dia kirim di HP-ku. Konsep itu masih kusimpan dimemori
HP-ku. Dengan tangan
dan jariku yang
kaku dan lesu aku membukanya dan membacanya.
“Kak Reymon, maafkan Mira. Mira harus pergi mencari
ilmu ke negeri seberang untuk bekal hidup di hari tua nanti. Selamat tinggal, Kak. Jangan pernah lupakan aku. (by Mira your love)”.
Berulang kali aku membacanya namun itu
hanya membuatku tambah sedih. Aku akhirnya tahu bahwa cinta itu tak selamanya
memiliki. Aku juga berhak untuk merasakan kehilangan. Dalam gundah yang
membuncah, aku ingat sebuah syair:
Waktu terasa semakin berlalu,
tinggalkan cerita tentang kita,
adakah masih lagi kita bersama,
‘tuk hapuskan semua pilu di dada.
Memang waktulah yang akan merubah
semuanya. Tetapi aku kecewa sebab dalam
putarannya, waktu
tidak mengenal kata lelah. Satu harapanku yang tersisa, semoga engkau sukses dan
dapat meraih mimpi dan cita-citamu. Ingatlah selalu bahwa aku senantiasa hadir untukmu disetiap
hembus nafasmu.***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar