Fr. Ayub Adha
“ No man is an island. Tidak ada
manusia yang hidupnya seperti pulau ”.
Ungkapan kecil ini mau mengatakan
kepada kita bahwa sejatinya manusia tidak dapat hidup sendirian. Manusia
membutuhkan orang lain. Itulah kodrat manusia yang tak dapat disangkal. Manusia
diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan yang lain dan juga memenuhi
kebutuhan yang lain.
Sebagai ciptaan Tuhan yang paling
mulia, manusia sederajat dengan yang lainnya. Baik laki-laki maupun perempuan,
semuanya sama di mata Allah. Tak ada seorang pun yang dapat menganggap dirinya
lebih tinggi, lebih mulia atau bahkan lebih pantas hidup dari orang lain. Semua
manusia adalah sama, karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia. Kesederajatan
inilah yang juga dijunjung tinggi di negara kita tercinta, Indonesia.
![]() |
| Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal Jakarta berdiri berdampingan. Sumber Foto: http://chaerreina.blogspot.com |
Indonesia adalah negara pluralis.
Negara majemuk yang meliputi perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Indonesia
memiliki masyarakat yang mendiami pulau-pulau berbeda, dari Sabang sampai
Merauke. Masyarakat dunia mengakui bahwa Indonesia adalah negara kesatuan
(NKRI), dengan semboyan: Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda
tetapi satu. Hal ini merupakan fakta aksiomatis (yang tak dapat dibantah) dan
tak dapat disangkal oleh siapa pun.
Salah satu hal mencolok yang timbul
kemajemukan Indonesia adalah dalam hal agama. Di Indonesia, terdapat beberapa
agama. Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan juga Kong Hucu. Sejatinya,
hubungan antar agama berjalan damai dan harmonis. Namun, kecenderungan
manusiawi kita lebih mengarahkan kita pada kesombongan. Tidak heran jika
keharmonisan kehidupan agama kita, banyak kali dinodai oleh pertikaian antar
agama, terutama antar umat Muslim dengan Kristen-Katolik.
Kasus pertikaian di Ambon (2000) atau di Maumere (1999) dan yang sekarang terjadi di
Gaza, mencerminkan betapa rendahnya toleransi antar umat beragama. Pesan cinta kasih dan
perdamaian yang diserukan oleh setiap agama, dihancurkan oleh fanatisme agama
yang salah.
Agama merupakan tempat manusia untuk
mencari kedamaian. Setiap agama mengajarkan kepada para penganutnya untuk
mencintai dan mengasihi umat beragama lain. Tidak ada agama yang mengajarkan
umatnya untuk memfitnah agama lain. Bahwa agamanya lebih suci daripada agama
lain. Baik Muslim, Kristen-Katholik, maupun agama lain, semuanya bertujuan sama
yakni menemukan Tuhan.
![]() |
| Berbeda-beda tetapi tetap satu: INDONESIA. Sumber Foto: http://andainah.blogspot.com |
Ajaran agama merupakan pijakan
seseorang untuk bertindak. Setiap tingkah laku seseorang, pasti tidak keluar
dari ajaran agamanya. Setiap pemeluk agama, apa pun agama yang dianutnya, harus
menerapkan ajaran agamanya itu dalam relasi dengan orang lain. Apabila setiap
orang sadar akan hal ini, maka hubungan antar agama pasti akan harmonis.
Dalam tulisan ini, saya mengangkat
satu hal yang kiranya menjadi pegangan bagi kita dalam berelasi, khususnya
dalam menjaga hubungan antar agama. Senjata kecil ini adalah cinta
tanpa batas. Cinta tanpa batas berarti cinta yang bebas. Cinta yang
universal. Cinta tanpa batas mengharuskan seseorang untuk mencintai semua
orang, tanpa memandang siapa dia. Cinta tanpa batas mengandaikan seseorang
keluar dari batas-batas suku, ras, agama, maupun golongan.
Seorang Kristen tidak hanya harus
mencintai sesama Kristen. Sebagai manusia, seorang Kristen harus mencintai
semua orang, tanpa memandang apakah dia seorang Muslim, Hindu, Budha, maupun
Kong Hucu. Cinta universal berarti seseorang berani keluar dari tembok-tembok
pemisah, untuk menjamah saudara-saudari kita yang lain.
![]() |
| Sumber foto: http://tilulas.com |
Perdamaian terjadi mengandaikan
ada cinta. Cinta menjadi pijakan utama dalam menjaga hubungan atau relasi
dengan orang lain. Cinta membuat seseorang sadar bahwa semua orang adalah
saudara-saudarinya. Kiranya cinta menjadi pegangan utama kita, dalam menjalani hidup
kita sehari-hari. Cinta tanpa batas menjadi faktor yang memperindah
relasi kita, terutama hubungan antar agama. Love is Life.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar