Kamis, 09 Oktober 2014

KATA ”MU”?

Fr. Emanuel Sedu Ria OCD


Sunyi dan hening menemaniku di kamar ini. Hanya sesekali terdengar cicitan cecak yang sedang asik berkejaran di langit-langit rumah.  Aku memandang Dia. Ya, Dia yang berdiri di sudut kamarku, sudut istimewa di kamar ini.  Bibirnya yang manis, matanya yang bersinar, bening dan indah. Dia seolah berbicara sesuatu kepadaku tetapi tak pernah kumengerti. Senyum mesra itu, seakan memeluk dan mendekapku. Dia tak pernah berkedip ketika aku mengeluh. Dia tak pernah berpaling ketika aku datang dan menangis.

Sudah tiga puluh menit aku dan Dia saling memandang. Tak ada yang dibicarakan. Kami hanya terdiam. Bisu. Aku menarik nafas  dalam lalu menghembus perlahan. Aku mau meletakan semua saripati hidupku hanya dalam naungan cinta dan kasihNya. Aku menundukan kepalaku dengan mata terpejam lalu kembali terdiam.

“Citt-citt” lagi suara cicak mengagetkanku. Aku membuka mataku, melemparkan senyumku kepadanya. Sejurus kemudian, aku perlahan membalikan badan dan keluar dari kamar tidurku. Seseorang sedang menungguku di ruang tamu. Andi, sahabatku itu telah ada di sana sejak sepuluh menit yang lalu. Andi cakep,  juga cool . Tidak heran jika kehidupanya banyak disukai kaum hawa. Di adalah satu-satunya sahabat yang aku miliki. Dulu waktu masih berlabel putih abu-abu di SESIBU ( Seminari Sinar Buana-Sumba) banyak hal selalu kami kerjakan bersama. Teman-teman menjuluki kami dengan sebutansatu kaki”.
Padang Sumba dengan kuda sandelwood-nya yang terkenal. Sumber foto: www.moripanet.com
Kami berdua duduk dan bernostalgia. Ditemani secangkir kopi pembicaraan seolah mengalir dan tak pernah berhenti. Ya, harus kuakui kopi arabika Bajawa kualitasnya kelas satu. Ditambah lagi kopi itu diracik secara sempurna oleh ibuku. Sekali teguk rasanya benar-benar nikmat dan aromanyapun terus tertanam dalam rongga mulut. Luar biasa. Semua kenangan yang telah kami lewati bersama kembali terpendar lebar. Ingatan akan padang Sumba dan segala yang pernah kami alami seakan menyeret kami ke masa lalu. Tapi jauh di relung hati paling dalam, aku menyadari bahwa perbincangan ini mungkin yang terakhir, sebab kami harus berpisah demi mengejar cita-cita yang telah kami impikan bersama. Dia ingin menjadi polisi, sementara aku masih meneruskan perjalanan panggilanku ini.

Waktu terus merambat. Tanpa terasa setengah dari hari telah kami lalui bersama. Petang telah datang. Kulirik ke jam dinding. Pukul 4 sore. Pembicaraan kami harus ‘diputus’ di sini. Aku menyiapakan barang-barangku. Di titik ini aku menyadari bahwa perpisahan itu sungguh sakit, apalagi jika berpisah dengan sahabat terbaik. Kuangkat barang-barangku dan kunaikan ke dalam mobil pamanku. Aku tak sanggup berbicara lagi.

Mobil dihidupkan dan itu artinya perjalanan akan dimulai. Syukurlah, sahabatku masih juga turut mengantarku. Kami sekeluarga ditambah sahabatku, membuat mobil pamanku berjalan sedikit tersendat-sendat, maklum mobil tua. Akirnya sampai tujuan. Aku turun dari mobil dan langsung melihat-lihat  seluruh lingkungan, tak ada yang terlewatkan. “ Biara karmel OCD” tulisan itu menjadi singgahan terakhir mataku. Latar tulisanya coklat muda membuat hatiku terasa teduh.
Pendopo Biara OCD San Jose Bongenga-Bajawa-NTT. Foto: Klitus Ngael
Bagiku OCD buknlah hal yang baru. Sudah sejak kecil aku mengenalnya. Itu pulalah yang mungkin membuatku tertarik masuk Biara OCD.  Aku suka dengan jubah mereka, juga suka pada pergaulan mereka, aku suka dengan hidup mereka yang serdehana, aku suka mendengar mereka berkotbah. Dan ketika pertama kali aku datang ke Biara ini aku bisa merasakan semua itu. Penantianku akhirnya sampai. Aku bisa menjadi salah satu saudara karmelit.

Aku diperbolehkan masuk membawa barabg-barangku menuju kamar tidur. Di sana kutemui wajah-wajah baru.  Mereka adalah teman seangkatanku. Aku menjabat erat tangan mereka satu per satu dan kutemukan aura persaudaraan yang kuat dalam diri mereka. Aku lalu diajak menuju kapela untuk ibadat sore. Aku hanya bisa ikut saja. Belum paham betul apa itu ibadat sore, apalagi membuka bukunya. Setelah ibadat, kami kembali ke kamar tidur.  Banyak waktu kami habiskan dengan bercerita, karena aturanya belum disusun.

Sore sudah mulai merambat ke balik malam. Udara terasa sangat dingin. Kubuang padnagan keluar melalui jendela kamar. Gerimis belum juga mereda. Itulah sebabnya aku diantar menggunakan mobil pamanku. Pikiranku jauh menembusi kabut-kabut itu dan kulihat kabut-kabut seolah berkata kepadaku tantang sesuatau. Aku terdiam.  Pikiranku kosong. Kedatanganku ke biara ini yang disambut gerimis membuat batinku bertanya, apakah ini sebuah kesedihan dan tangisan?  Suara hatiku mencoba menebak.  Tidak.  Gerimis ini akan membuat tanah menjadi lembab, dan benih-benih yang ada di dalamnya akan hancur. Dari situlah kehidupan baru mulai muncul. Gerimis membuat  benih-benih tumbuh dan berkembang. Ya, gerimis adalah tanda awal kehidupan.
Halaman tengah Biara OCD San Jose Bogenga-Bajawa-NTT. Tampak Asri. Foto: Klitus Ngael
Sebulan sudah kujalani hidupku menjadi seorang karmelit. Aku merasa ada perubahan besar dalam diriku, tapi semuanya itu berjalan tanpa kumengerti. Aku teringat ketika minggu pertama aku jalani kehidupanku sebagai seorang karmelit. Aku menghadap pater Master dan menyampaikan keinginanku untuk segera keluar dari biara ini.  Pater memberiku banyak saran dan masukan agar aku tetap bertahan dan merefleksikan lagi keputusaku ini.

Aku seperti menabrak sebuah dinding yang kokoh sehingga aku terpental dan jatuh berulang kali. Aku merasa hidupku kosong, hampa, dan semua yang kujalani tidak membuatku gembira. Ingin rasanya kakiku ini berlari sejuh mungkin yang kusanggup meninggalkan biara ini. Tapi itulah kehidupan. Aku tidak saja hidup menurut keinginan dagingku karena ada yang lebih berkuasa atas diriku. Kata orang hidup bukanlah suatu kebetulan. Ketika keputusanku sudah bulat bahwa aku akan pulang hari Sabtu, secara tak sengaja hari Kamis sore kakaku datang menjenguku. Betapa herannya Ia melihat tubuhku yang telah kurus bahkan menurutnya sangat kurus. Matanya berulang kali berkedip menahan air mata. Aku hanya terdiam sambil menahan air mataku juga. Kakaku bertanya banyak hal tentang keputusan yang telah kuambil untuk tarik diri. Ia menasehati aku banyak hal dan aku hanya terdiam seribu bahasa.

“Kita ini ciptaan Tuhan, karena itu Tuhanlah yang berhak atas kehidupan kita. Buanglah semua keegoisanmu dan serakanlah kepada Tuhan. Engkau akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda”.  Itu pesan kakaku.  Pesan ini serentak membuatku merasa sangat tersentuh.  Waktupun memisahkan perjumpaan kami. Kakakku pamit. Aku harus kembali kepada rutinitasku, mengikuti ibadat sore. 

Sore ini aku yang paling pertama berada dalam kapel. Tubuhku terasa bergetar. Pikiranku seolah terbuka dan perasaanku diselimuti rasa bersalah. Aku memandang Dia yang berdiri di sudut kapel ( sudut istimewa). Ingin rasanya aku menangis dan berteriak sekuat  tenaga. Kuamati bolah mataNya yang bening, kulihat di dalamnya sahabatku. Sahabatku yang telah bersamaku bermimpi. Ku tak boleh menangis dan gagal dalam mimpiku. Shandlewood telah mengajariku bagaimana berlari menggapai mimpi. Kawula muda telah mengajariku tuk terbang tinggi tersenyum melihat keberhasilan. Kuamati bibirnya. Ia seakan berbicara sesuatu kepadaku. Satu kali, dua kali, aku tak bisa membaca perkataaNya itu. Kuterdiam dan mengangakat kepalaku, memandang putraNya yang tergantung persis di sebelah kiriNya. Tuhan, kini aku mengerti suara hatiku mendesah, “terjadilah padaku menurut perkataanmu”. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar