Fr. Emanuel Sedu Ria OCD
Sunyi dan hening menemaniku di kamar ini. Hanya sesekali terdengar cicitan cecak yang sedang asik berkejaran di langit-langit rumah. Aku memandang Dia. Ya, Dia yang berdiri di sudut kamarku, sudut istimewa di kamar ini. Bibirnya yang manis, matanya yang bersinar, bening dan indah. Dia seolah berbicara sesuatu kepadaku tetapi tak pernah kumengerti. Senyum mesra itu, seakan memeluk dan mendekapku. Dia tak pernah berkedip ketika aku mengeluh. Dia tak pernah berpaling ketika aku datang dan menangis.
Sudah tiga puluh menit aku
dan Dia saling memandang. Tak
ada yang dibicarakan. Kami
hanya terdiam. Bisu. Aku menarik nafas
dalam lalu menghembus perlahan. Aku mau meletakan semua saripati hidupku
hanya dalam naungan cinta dan kasihNya. Aku menundukan kepalaku dengan mata
terpejam lalu
kembali terdiam.
“Citt-citt” lagi suara cicak mengagetkanku.
Aku membuka mataku, melemparkan senyumku kepadanya. Sejurus
kemudian, aku perlahan
membalikan badan dan keluar dari kamar tidurku. Seseorang sedang
menungguku di ruang tamu. Andi,
sahabatku itu telah ada di sana sejak sepuluh menit yang lalu. Andi cakep, juga cool
. Tidak heran
jika kehidupanya banyak disukai kaum hawa. Di adalah satu-satunya sahabat yang
aku miliki. Dulu waktu masih berlabel putih abu-abu di SESIBU ( Seminari Sinar Buana-Sumba)
banyak hal selalu kami kerjakan bersama. Teman-teman menjuluki kami dengan sebutan “satu kaki”.
![]() |
| Padang Sumba dengan kuda sandelwood-nya yang terkenal. Sumber foto: www.moripanet.com |
Kami berdua duduk dan
bernostalgia.
Ditemani secangkir kopi pembicaraan seolah mengalir dan tak
pernah berhenti. Ya, harus
kuakui kopi arabika Bajawa kualitasnya kelas satu. Ditambah lagi kopi itu
diracik secara sempurna oleh ibuku.
Sekali teguk rasanya benar-benar nikmat dan aromanyapun terus tertanam dalam
rongga mulut. Luar biasa. Semua kenangan
yang telah kami lewati bersama kembali terpendar lebar. Ingatan
akan padang Sumba dan segala yang pernah kami alami seakan menyeret kami ke
masa lalu. Tapi
jauh di relung hati paling dalam, aku menyadari bahwa perbincangan ini
mungkin yang terakhir, sebab
kami harus berpisah demi mengejar cita-cita yang telah kami impikan bersama.
Dia ingin menjadi polisi, sementara aku masih meneruskan perjalanan panggilanku
ini.
Waktu terus merambat. Tanpa terasa setengah dari hari
telah kami lalui bersama. Petang telah datang. Kulirik ke jam dinding. Pukul 4 sore. Pembicaraan
kami harus ‘diputus’ di sini. Aku menyiapakan barang-barangku. Di titik ini aku
menyadari bahwa perpisahan itu sungguh sakit, apalagi jika berpisah dengan
sahabat terbaik. Kuangkat
barang-barangku dan kunaikan ke dalam mobil pamanku. Aku tak sanggup berbicara
lagi.
Mobil dihidupkan dan itu
artinya perjalanan akan dimulai. Syukurlah, sahabatku masih juga turut
mengantarku. Kami sekeluarga ditambah sahabatku, membuat mobil pamanku berjalan
sedikit tersendat-sendat, maklum mobil tua. Akirnya sampai tujuan. Aku turun
dari mobil dan langsung melihat-lihat
seluruh lingkungan, tak ada yang terlewatkan. “ Biara karmel OCD”
tulisan itu menjadi singgahan terakhir mataku. Latar tulisanya coklat muda
membuat hatiku terasa teduh.
Bagiku
OCD buknlah hal yang baru. Sudah sejak kecil aku mengenalnya. Itu pulalah
yang
mungkin membuatku tertarik masuk Biara OCD. Aku suka dengan jubah mereka, juga suka pada
pergaulan mereka, aku suka dengan hidup mereka yang serdehana, aku suka
mendengar mereka berkotbah. Dan ketika pertama kali aku datang ke Biara ini aku
bisa merasakan
semua itu. Penantianku akhirnya sampai. Aku
bisa menjadi salah satu
saudara karmelit.
Aku diperbolehkan masuk membawa barabg-barangku menuju
kamar tidur. Di sana kutemui wajah-wajah baru. Mereka adalah teman seangkatanku. Aku menjabat
erat tangan
mereka satu per satu
dan kutemukan aura persaudaraan yang kuat dalam diri mereka. Aku lalu diajak
menuju kapela untuk ibadat sore. Aku hanya bisa
ikut saja. Belum paham betul apa itu ibadat sore,
apalagi membuka bukunya. Setelah ibadat, kami kembali ke kamar tidur. Banyak waktu kami habiskan dengan bercerita,
karena aturanya belum disusun.
Sore sudah mulai merambat ke balik malam. Udara terasa
sangat dingin. Kubuang padnagan keluar melalui jendela kamar. Gerimis belum
juga mereda.
Itulah sebabnya aku diantar menggunakan mobil pamanku. Pikiranku jauh menembusi
kabut-kabut itu dan kulihat kabut-kabut seolah berkata kepadaku tantang
sesuatau. Aku terdiam. Pikiranku kosong. Kedatanganku
ke biara ini yang disambut gerimis membuat batinku bertanya, apakah ini sebuah kesedihan dan tangisan? Suara
hatiku mencoba menebak. Tidak. Gerimis ini akan membuat tanah menjadi
lembab, dan benih-benih yang ada di dalamnya akan hancur. Dari
situlah kehidupan baru mulai muncul. Gerimis membuat benih-benih tumbuh dan berkembang. Ya,
gerimis adalah tanda awal kehidupan.
Sebulan sudah kujalani hidupku menjadi seorang karmelit.
Aku merasa ada perubahan besar dalam diriku, tapi semuanya itu berjalan tanpa
kumengerti. Aku teringat ketika minggu pertama aku jalani kehidupanku sebagai
seorang karmelit. Aku
menghadap pater Master dan menyampaikan keinginanku untuk segera keluar dari
biara ini. Pater memberiku banyak saran
dan masukan agar aku tetap bertahan dan merefleksikan
lagi keputusaku ini.
Aku seperti menabrak sebuah
dinding yang kokoh sehingga aku terpental dan jatuh berulang kali. Aku merasa
hidupku kosong, hampa, dan semua yang kujalani tidak membuatku gembira. Ingin
rasanya kakiku ini berlari sejuh mungkin yang kusanggup meninggalkan biara ini.
Tapi itulah kehidupan. Aku tidak saja hidup menurut keinginan dagingku karena ada yang
lebih berkuasa atas diriku. Kata orang hidup bukanlah suatu kebetulan. Ketika
keputusanku sudah bulat bahwa aku akan pulang hari Sabtu, secara tak
sengaja hari Kamis
sore kakaku datang menjenguku. Betapa herannya Ia melihat tubuhku yang telah
kurus bahkan menurutnya sangat kurus. Matanya berulang kali berkedip menahan
air mata. Aku
hanya terdiam sambil menahan air mataku juga. Kakaku bertanya banyak hal
tentang keputusan yang telah kuambil untuk tarik diri. Ia menasehati aku banyak hal dan aku
hanya terdiam seribu bahasa.
“Kita ini ciptaan Tuhan,
karena itu Tuhanlah yang berhak atas kehidupan kita. Buanglah semua keegoisanmu
dan serakanlah kepada Tuhan. Engkau
akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda”.
Itu pesan kakaku. Pesan
ini serentak membuatku merasa sangat tersentuh. Waktupun memisahkan perjumpaan kami. Kakakku
pamit. Aku harus kembali kepada rutinitasku, mengikuti ibadat sore.
Sore ini aku yang paling pertama berada dalam kapel.
Tubuhku terasa bergetar. Pikiranku
seolah terbuka dan perasaanku diselimuti rasa bersalah. Aku memandang Dia yang
berdiri di sudut kapel ( sudut istimewa). Ingin rasanya
aku menangis dan berteriak sekuat
tenaga. Kuamati bolah mataNya yang bening, kulihat di dalamnya
sahabatku. Sahabatku yang telah
bersamaku bermimpi. Ku tak boleh menangis dan gagal dalam mimpiku. Shandlewood
telah mengajariku bagaimana berlari menggapai mimpi. Kawula muda telah
mengajariku tuk terbang tinggi tersenyum melihat keberhasilan. Kuamati bibirnya. Ia seakan
berbicara
sesuatu kepadaku. Satu kali, dua kali, aku tak bisa membaca perkataaNya itu.
Kuterdiam dan mengangakat kepalaku,
memandang putraNya yang tergantung persis di sebelah kiriNya. Tuhan, kini aku
mengerti suara hatiku mendesah,
“terjadilah padaku
menurut perkataanmu”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar